Alkisah, disuatu kehidupan zaman modern ini, hiduplah sebuah keluarga
yang sangat islamik. Kehidupan mereka diwarnai dengan suasana berkesan
muslim sejati.
Dimulai dari nenek, ibu, dan putri perempuan nya pun
berjilbab(antiklimaks). Mereka adalah keluarga Hj.Hasan, seorang
pengusaha sukses yang islamik.
Namun, kini telah berubah akal (eufemisme) karena kesombongannya ,
sehingga sangat di segani dan dihormati oleh warga warga disekitar
rumahnya . Hj.Hasan memiliki seorang putri yang cantik jelita dan juga
baik hati. Putri itu adalah wanita idaman para pria karena parasnya yang
begitu cantik bagaikan beningnya air (alusio). Putri itu bernama
Hanifah. Hanifah adalah seorang mahasiswsi salahsatu universitas di
daerah Bandung.
Suatu hari, di kampus Hanifah diadakan mentoring bersama dosen yang
ada di kampus tersebut. Saat itu Hanifah berangkat dari rumahnya dengan
tak lupa berpamitan kepada kedua orang tua nya yang sangat ia cintai. Ia
berlari dengan cepat , secepat kilat yang menyambar (hiperbola).
Setelah sampai di kampus tersebut, Hanifah bergegas menuju ruang
kelasnya. Diperjalanan menuju kelas, Hanifah melihat seorang pria yang
sangat tampan.
Parasnya yang rupawan itu seolah-olah bagai matahari yang tersenyum
menyapa kepadanya (personifikasi). Hanifah terpesona dan terus
membayangkannya. Yang ada di benak pikirannya hanyalah dia, dia, dan
dia. Pikirannya mulai berantakan, sehingga ketika ia berjalan , tiba
tiba Hanifah terjatuh. Mahasiwa dan mahasiwi (totem proparte) disana
melihat ke arahnya dan mentertawakannya. Dengan cepat, Hanifah segera
lari menuju ruang kelasnya dengan tersipuh malu membawa wajah yang mulai
memerah.
Ketika ia telah sampai di ruang kelasnya, Dosen yang seharusnya
berada di ruangan itu, kini tak terlihat batang hidungnya (
parsprototo). Tak lama kemudian, terdengarlah suara tangan yang mengetuk
sebuah pintu dari arah utara.
Ruangan terasa hening dengan tiba-tiba , dan semuua orang yang berada
dalam ruangan itu melihat ke arahnya. Tak kuduga, ternyata suara tangan
yang sedang mengetuk pintu itu adalah seorang pria yang kulihat tadi ?
Subhanallah, pria itu membuat hatiku seolah bergetar dan goyah seperti
gempa ? kata Hanifah. ( hiperbola).
Pria tampan itu tiba tiba masuk dan memperkenalkan namanya
"assalammualaikum.. perkenalkan, nama saya Hanif Ahmad. Saya asisten
dosen dan pada hari ini saya akan menggantikan kehadiran beliau.
Terimakasih" kata pria tampan. Suaranya yang tegas dan ia juga terlihat
berwibawa.
Hanifah pun semakin bersimpati kepada Hanif. Saking terpesonanya,
Hanifah merasa bahwa Allah swt telah menitipkan makna cinta pada saat
pandangan pertama kepada Hanif. Tak terasa, dua jam telah berlalu.
Mentoring yang diberikan oleh Hanif telah selesai.
Namun, dengan tak sadar Hanifah memandangi wajahnya yang tampan itu
tanpa berkedip sedikit pun. Pria itu mengatahuinya dan bergegas
menghampiri Hanifah. Pria itu berkata "Siapakah namamu? mentoringnya
sudah selesai non, hehehehe. Mengapa masih duduk manis disini?" . Saat
itu, Hanifah tiba-tiba gugup, hanya bisa menatap bola matanya dan
terucap sepatah kata dari bibirnya "namaku Hanifah". Ia bergegas lari
pulang kerumahnya dengan membawa pipinya yang merah merona itu seperti
buah delima ( asosiasi). Ketika Hanifah berlari, Hanif pun terdiam dan
termenung memikirkan kemiripan namanya dengan Hanifah.
Seiring berjalannya waktu, Hanifah sampai dirumahnya. Ia masuk ke
dalam kamarnya. Di kamarnya, ia berbaring di kasur dan menoleh ke
samping ( pleonasme) sambil melihat ke arah jendela yang terbuka dengan
memandangi dewi malam.
Keesokan harinya, setelah usai kegiatan di kampus. Hanifah pulang dan
menghampiri sebuah toko buku. Ketika Hanifah sedang berjalan , tiba-tiba
vespa milik seorang pria tak sengaja menyenggol Hanifah. Hanifah
terjatuh sampai tak sadarkan diri. Pria itu kaget dan kekagetan itu,
membuatnya membawa Hanifah pergi kerumah sakit terdekat.
Tak lama kemudian, Hanifah tersadar. Hanifah mulai membuka matanya
dengan perlahan. Hanifah tampak kebingungan ketika melihat pria yang
berada disampingnya itu adalah Hanif, asistan dosen. Hanifah bertanya
kepada Hanif "mengapa aku ada disini? Aku kan baik-baik saja ?" . Hanif
menjawab dan menceritakannya.
Setelah keadaan Hanifah membaik, Hanif mengantar pulang kerumahnya .
Sampai dirumahnya, ayah Hanifah yang bernama Hj.Hasan , memandan ke
arahnya dengan tatapan mata seolah tak menyukainya. Mereka menghampiri
ayahnya dan mengucapkan salam.
Namun ayahnya Hanifah menghiraukannya dan bertanya sesuatu kepada
Hanifah dengan nada yang kersa. "Siapa pria ini? Kekasihmu? Motornya
bagus sekali. Tempo dulu ya? Sampai ketinggalan kereta api gitu ?"
(ironi). Hanif dan Hanifah hanya diam tersenyum karena tak berani
menjawabnya.
Hanifah bergegas masuk ke kamar sedangkan hanif pulanh kerumahnya
dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.Tiba di kamarnya, Hanifah
menangis karean ia tak enak hati kepada Hanif oleh perkataan ayahnya.
Singkat cerita , Hanif mulai merasakan hal yang sama, yaitu mencintai
Hanifah. Ia tak mau kehilangannya, sehingga ia mempunyai tekad untuk
melamarnya. Beberapa hari kemudian , ia datang kerumah Hanifah un tuk
melamarnya dengan membawa sebuah jilbab sebagai permata.
Ketika sampai disana, Hanif berkata-kata untuk meminta ijin kepada
kedua orang tua Hanifah . " Assalammualaikum. Pak, bu, saya datang
kesini bermaksud untuk melamar putrimu . Saya sangat mencintainya.
Apakah kalian merestui? Jika ia, ambillah dan terimalah sebuah permata
jelek yang berada dalam genggaman tanganku ini (litotes) sebagai tanda
bahwa aku telah menjadi calon suminya. Jika tidak, diamkan dan
biarkanlah permata jelek ini berada dalam genggaman tanganku sebagai
kenangan perjuangan cintaku terhadap Hanifah ( sambil menggenggam
permata dan menyodorkannya)."
KataHanif. Hanifah sangat senang karena pria yang dicintainya itu
melamarnya. Namun ayahnya berkata lain. Ketika itu ayahnya marah besar
dan berkata "Heh vespa butut ! berani-beraninya kau melamar anakku
dengan sebuah jilbab . Pergi kau !" ( sarkasme). Hanif terdiam tak mau
keluar dan tetap mempertahankan cintanya.
Hanifah dan ibunya tak tega melihat Hanif diperlakukan seperti itu.
Namun, apalah daya tak sampai . Mereka tak berani menentang ayahnya itu.
Tak lama kemudian, ayahnya memaksa Hanif keluar secara paksa.
Hanif pun keluar dari rumah Hanifah dengan berkecil hati. Dan Hanifah pun kecewa terhadap ayahnya.
Setelah kejadian itu, keseharian Hanifah selalu di isi dengan
tangisannya. Namun, di lain waktu kini Hanifah tersadar bahwa peristiwa
yang sudah berlalu biarlah berlalu, karena nasi sudah mejadi bubur.
Hanifah yang dulu selalu menangis, kini berubah menjadi Hanifah yang selalu tersenyum. (klimaks),
selesai.

0 Response to "Cinta Di Balik Jilbab"
Posting Komentar